SASTRA SEBAGAI SEBUAH DISIPLIN ILMU

November 22, 2009 at 11:32 am (Uncategorized)

SASTRA SEBAGAI SEBUAH DISIPLIN ILMU

Oleh Pertampilan S. Brahmana

Ringkasan

Tulisan ini mencoba memahami kesusastraan sebagai satu disiplin ilmu. Syarat menjadi sebuah disiplin ilmu adalah ada ontologi, ada epistemologi dan ada aksiologi. Penulis mencoba menjelaskan ontologi,  epistemologi dan aksiologi dari sastra sebagai sebuah disiplin ilmu.

1. Ilmu

1.1 Pengertian Ilmu

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (hal 373.) Ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian, baik tentang segala yang masuk jenis kebatinan maupun yang berkenan dengan keadaan alam. Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan hasil penelitian dengan menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang memberikan pemahaman dan informasi tentang gejala-gejala alam dan sosial. Ilmu menjawab pertanyaan “mengapa” terjadi hubungan kausal (sebab-akibat), secara sistematis berdasarkan metodologi. Ilmu juga bersifat generalisasi (Komaruddin, 1985:39-40).

Menurut Sidi Gazalba (Gazalba, 1991:40) mengatakan bahwa ilmu haruslah sistematis berdasarkan metodologi, dan berusaha mencapai generalisasi. Sedangkan Jujun S. Sumantri (Sumantri, 1994:237) mengatakan bahwa ilmu merpakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat.

Arthur Thomson, mendefinisikan ilmu sebagai pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah sesederhana mungkin. Maka ilmu mencari ilmu pengetahuan dari segi-segi tertentu, bidang-bidang khusus dengan obyeknya unsur-unsur alam; benda-benda mati saja, tanaman saja, hewan saja, manusia saja.. Ilmu juga mempelajari segi-segi tertentu kehidupan, mempelajari jurusan-jurusan tertentu tentang hukum, hukum adat, hukum kriminil dan perdata, dan sebagainya. Ilmu hanya memberikan penjelasan khusus tentang fakta, sedangkan tentang penjelasan umum tentang obyek yang dipelajrinya diserahkannya kepada filsafat. Maka perhatian ilmu terpusat pada “bagaimana adanya”, sedangkan tentang “bagaimana seharusnya” menjadi tugas filsafat menjelaskannya.

1.2 Syarat Ilmu Pengetahuan

Sesuatu untuk dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan ada syaratnya. Syaratnya ada 3 yaitu mempunyau ontologi, mempunyai epistemologi dan mempunyai aksiologi atau deontologi.

Ontologi ada yang menyebutnya dengan istilah teori kebenaran. Ontologi adalah hakekat, inti atau esensi. Ontologi membahas tentang hakekat, inti atau esensi dari yang disebut pengetahuan atau dengan kata lain ontologi mengkaji tentang ‘realitas sejati’ dari pengetahuan. Maka yang dipertanyakan dalam ontologi ini apakah hakekat atau inti atau esensi dari pengethuan tersebut. Misalnya apakah hakekat, esensi dari sastra, apakah hakekat, esensi dari komunikasi dan sebagainya.

Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan (A.M.W Pranarka, 1987:3). Epistemologi mengkaji tentang validitas (keabsahan) dan batas-batas ilmu pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan didapatkan melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan.

Metode keilmuan ini ada dua pertama metode deduksi dan kedua metode deduksi.

Aksiologi atau deontologi mengenai hal-hal yang normatif. Misalnya kegunaan ilmu. Manfaat atau kegunaan apakah dapat langsung dirasakan, apakah tidak, sejauh mana dampak atau pengaruhnya terhadap manusia dan sebagainya.

1.3 Sifat Ilmu

Ilmu memiliki sifat sebagai berikut (Bawa, 2003:12-13):

  1. Bersifat akumulatif dan milik bersama. Artinya hasil dari setiap ilmu boleh dipakai oleh siapa saja.
  2. Hasil ilmu tidak bersifat mutlak, artinya ilmu tidak terlepas dari kesalahan (bukan kesalahan metodenya)
  3. Ilmu itu obyektif artinya berdasarkan fakta dan atau faktual, bukan berasal dari intuisi pribadi, atau hal-hal yang gaib.

Menurut Ralph Rose dan Ernest Van den Haag, bahwa sifat ilmiah adalah

  1. Rasional.
  2. Bersifat empiris
  3. Bersifat umum, dan
  4. Ilmu bersifat akumulatif.

1.4 Simpulan

Hakekat ilmu adalah esensi, inti dari pengetahuan. Esensi atau hakekat ilmu bahwa ilmu mempunyai ontologi (hakikat atau esensi), mempunyai epistemologi (metode atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar), sehingga jelas batas-batasnya antara ilmu pengetahuan yang satu dengan ilmu pengetahuan yang lainnya, dan mempunyai aksiologi (deontologi) yaitu kegunaan atau kemanfaatan ilmu pengetahuan.

Sifat ilmu adalah kumulatif, tidak bersifat mutlak, obyektif, rasional, bersifat empiris, bersifat umum.

2. Pengertian Sastra

Istilah sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta; akar kata sas biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka itu sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Awalan su berarti baik, indah, sehingga susastra dapat dibandingkan dengan belles-lettres (Teeuw. 1988:23) .

Apakah kesusastraan itu? Dalam Kamus Sinonim Bahasa Indonesia yang disusun oleh Harimurti Kridalaksana (1977:154), sastra bersinonim dengan bahasa indah, pustaka, buku, persuratan. Kesusastraan bersinonim dengan literatur, kepustakaan, seni kata. Sastrawan bersinonim pujangga, pengarang, penyair.

Dalam KUBI (1996:882) dijelaskan sastra adalah:

1 Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).
2 Karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.
3 Kitab suci Hindu, kitab ilmu pengetahuan.
4 Pustaka; kitab primbon (berisi ramalan, hitungan dan sebagainya)
5 Tulisan, huruf.

Sedangkan kesusastraan, karya tulis yang jika dibandingkan dengan yang lain, memiliki berbagai ketentuan seperti keaslian, keartisikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya. è kesastraan, perihal sastra (maknanya lebih luas daripada kesusastraan). è Sastrawan, (1) ahli sastra, (2) pujangga, pengarang prosa dan puisi, (3) (orang) pandai-pandai, cerdik cendekia.

Dalam Kamus Sastra yang ditulis oleh Panuti Sudjiman (1986), dijelaskan sastra, karya lisan atau tertulis yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapan.

Eagleton (1988:1-2) mengatakan kesusastraan adalah karya tulisan yang bersifat “imajinatif. Kesusastraan adalah sejenis karya tulisan yang mewakili suatu keganasan[1] yang teratur terhadap pertuturan biasa. Kesusastraan mengubah dan memadatkan bahasa harian. Luxemburg (1984:5,9) mengatakan kesusastraan merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi. Sastra bukanlah adalah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan.

Kesusastraan merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi. Sastra bukanlah adalah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan (Jan van Luxemburg, 1984:5,9).

Menurut Sabaruddin Ahmad (1952:6) kesusastraan ialah himpunan segala sastera atau karangan yang indah, karangan yang baik. Kesusastraan atau seni sastra ialah segala pensahiran fikiran atau perasaan manusia dengan memakai alat bahasa, baik dengan lisan maupun tulisan yang memenuhi syarat-syarat kesenian.

Sedangkan menurut Ahmad Zaini Nasution dkk (1973: 11) kesusastraan ialah segala karangan yang baik bentuk dan isinya, yang dimaksud bentuk dan isi ialah pemakaian bahasa dan teknik pengolahan sesuatu karangan, sedangkan isi, berarti pikiran atau ide yang dikemukakan.

Kemudian berdasarkan Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia pada tanggal 25-28 Oktober 1966 (1967:184), diungkapkan kesusastraan adalah sebuah peristiwa seni yang memakai bahasa sebagai mediumnya.

Sedangkan sastra sebagai ilmu menurut A. Teeuw (1988:120) menunjukkan keistimewaan, barangkali juga keanehan yang mungkin tidak dapat kita lihat pada banyak cabang ilmu pengetahuan lain yaitu obyek utama penelitiannya tidak tentu malahan tidak karuan. Sampai sekarang belum ada seorangpun yang berhasil memberi jawaban atas pertanyaan ilmu sastra; apakah Sastra?.

Melihat keluasan seperti yang dikemukakan oleh A. Teeuw tersebut, maka kemudian menurut M.S. Hutagalung “meskipun telah lama diterima sebagai ilmu dan diajarkan di perguruan tinggi, ilmu susastra (sastra, pen) masih diragukan kemurniannya sebagai ilmu, bahkan oleh ahlinya sendiri seperti Hudson dan Warren yang sudah menyusun buku pengantar untuk pemahaman susastra. Salah satu penyebab utama timbulnya masalah kemurnian ilmu susastra adalah karena obyeknya yakni karya sastra yang “licin dan cair”[2].

Untuk lebih jelasnya dengan bertolak dari pandangan di atas, permasalahan sebenarnya dapat disederhanakan menjadi dua bahagian: Pertama sastra dalam pengertian: sastra sebagai karya imajinatif. Kedua sastra dalam pengertian seni bahasa (sebagai karya kreatif). Sastra sebagai karya imajinatif adalah rekaan, hasil konstruksi seorang pengarang sementara sastra sebagai seni bahasa adalah kreatifitas.

Jadi sastra adalah kegiatan kreatif dan imajinatif. Sebagai kegiatan kreatif karya sastra adalah sebuah seni bahasa. Bersifat imajinatif, berarti kalaupun realitas yang disajikan sebuah karya sastra adalah sebuah realitas yang sungguh-sungguh ada, seolah-olah dapat dijadikan studi sejarah misalnya, tetapi realitas seperti ini adalah realitas yang sudah dimodifikasi, direkonstruksi sipengarang berdasarkan kehendak hatinya (anutan rohaninya)[3].

Hal ini maka pendekatan karya sastra dapat dibagi atas dua bahagian besar yang dikenal dengan pendekatan instrinsik dan ekstrinsik[4]. Kedua pendekatan ini hanya terpisah dalam istilah saja. Pada kenyataannya antara pendekatan yang satu dengan yang lainnya saling mengisi, saling mendukung dalam memberi arti terhadap pemahaman sebuah karya sastra, bukan saling berbeda, sebab kalau pembicaraan terhadap sebuah karya sastra lebih ditekankan ke segi ekstrinsiknya, pembicaraan karya sastra menjadi lain, boleh jadi bukan lagi pembicaraan tentang kesusastraan. Menekankan ke bidang sosiologi misalnya, akan menjadi semacam uraian tentang sosiologi. Menekankan kepada bidang sejarah misalnya, akan menjadi semacam pembicaraan tentang sejarah.

Jadi walaupun pengertian sastra dan ilmu sastra samar-samar, setidak-tidaknya karya sastra mengandung tujuh unsur, unsur (1) kebahasaan, (2) struktur wacana, (3) signifikan sastra, (4) keindahan, (5) sosial budaya, (6) nilai, baik nilai filsafat, agama, maupun psikologi, serta (7) latar kesejarahannya (Aminuddin, 1987: 51).

3. Sastra Sebagai Ilmu

3.1 Syarat Ilmu

Seperti telah dikemukakan di atas bahwa sesuatu itu dapat digolongkan menjadi ilmu harus memiliki ontologi, epistemologi, aksiologi (deontologi). Pertanyaan kemudian, bagaimana ontologi sastra sebagai ilmu? Bagaimana epistemologi sastra sebagai ilmu dan bagaimana aksiologi atau deontologi sastra sebagai ilmu?

3.1.1 Ontologi Sastra

Apa yang menjadi ontologi atau hakekat atau inti sastra atau kesusastraan? Apakah Sastra atau kesusastraan itu seni, atau bukan. Apakah Sastra atau kesusastraan itu media komunikasi atau bukan? Dengan terjawabnya hakekat sastra ini, maka semakin jelas terjawab masalah epistemology sastra atau kesusastraan. Nyatanya hingga kini, apa ontology sastra belum terjawab.

Menurut pandangan saya setidaknya ada lima ontologi atau hakekat atau esensi sastra sebagai ilmu pertama sastra sebagai bahasa, sastra sebagai seni dan sastra sebagai komunikasi dan sastra sebagai simbol artinya di balik teks ada makna lain dan sastra sebagai hiburan.

Ontologi Sastra

Sastra Sebagai Bahasa

Sastra Sebagai Seni/Estetika

Sastra Sebagai Komunikasi

Sastra Sebagai Simbol

Sastra Sebagai Hiburan

Di sinilah keunikan sastra sebagai ilmu, sastra sebagai ilmu mempunyai lebih dari satu ontologi, hakekat, esensinya. Ontologi, hakekat, esensi yang berbeda, menghasilkan, atau memerlukan metode pengkajian yang berbeda pula. Hal inilah yang menyebabkan dalam tataran epistemologi, banyak metode pendekatan, pengkajian terhadap sastra.

3.1.2 Epistemologi Sastra

Berdasarkan lima ontologi sastra tersebut, maka epistemologi sastra itu, bergantung dari ontologi yang kita pahami. Bila kita menganggap sastra sebagai bahasa, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kebahasaaan. Bila kita menganggap sastra sebagai seni, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kesenian. Bila kita menganggap sastra sebagai komunikasi, maka epistemologinya adalah ilmu komunikasi. Bila kita menganggap sastra sebagai simbol, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu tentang simbol. Bila kita menganggap sastra sebagai hiburan, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kebudayaan populer.

Ontologi

Arahan  Epistemologi

Sastra Sebagai Bahasa Ilmu-Ilmu Tentang Kebahasaan
Sastra Sebagai Seni Ilmu-Ilmu Tentang Seni dan Estetika
Sastra Sebagai Komunikasi Ilmu-ilmu Tentang Komunikasi
Sastra Sebagai Simbol Ilmu-Ilmu Tentang Simbol
Sastra Sebagai Hiburan Kajian Budaya Populer

Epistemologi

Disiplin Ilmu Yang Terkait

Ilmu-Ilmu Tentang Bahasa Semantik, Sintaktis dan sebagainya.
Ilmu-Ilmu Tentang Seni Seni dan Estetika dan sebagainya.
Ilmu-ilmu Tentang Komunikasi Ilmu Komunikasi dan sebagainya.
Ilmu-Ilmu Tentang Simbol Hermenutika, Analisis Wacana, Simbolisme, Dekonstruksi dan sebagainya.
Kajian Budaya Populer Psikologi, Hedonisme dan sebagainya.

Penggunaan atau penerapannya tidak kaku, namun fungsional. kombinasi kelima ontologi tersebut, melahirkan epistemologi sastra seperti yang sudah digunakan selama ini seperti srukturalisme, mimesis, pragmatik, ekspresi, obyektif, emotif. analitis, historis, sosiopsikologis, didaktis,  semantik, tradisional,  intensional,  general,  komparatif,  doktrin, sekuensi, tematik, evaluatif,  judisial,  induktif, impresionistik,  sosiokultural,  mitopeik,  relativistik, absolustik,  interprestasi, tekstual,  lingusitik,  biografis,  perspektif, elusidatori, praktis,  politik/ideologi, hedonisme,  utilitarisme,  vitalisme, humanisme, relegiusme,  sosial budaya,  artistik, eksistensialisme dan sebagainya seperti semiotik, hermeneutika, sosiosastra (sosiologi sastra), intertektualitas, psikologi sastra, dekonstruksi, simbolisme.

3.1.3 Aksiologi (Deontologi) Sastra

Bagaimana asksiologi atau deontologi sastra? Bila mengikuti ontologi atau hakekat atau esensi sastra di atas, maka asksiologi atau deontologi sastra adalah:

1 Karya Sastra harus mencerminkan dan memupuk rasa keindahan.
2 Karya Sastra harus membimbing peradapan dan keutuhan bangsa.
3 Karya Sastra harus menuntun kearah pembangunan rohani bangsa.
4 Karya Sastra harus memberikan penerangan bagi persoalan-persoalan dalam masyarakat.
5 Karya Sastra harus menciptakan ide-ide dan gagasan-gagasan baru.
6 Karya Sastra harus mampu memberikan hiburan bagi rakyat (penikmatnya).

Maka yang menjadi aksiologi sastra adalah keenam unsur di atas. Soal apakah keenam unsur ini terdapat di dalam sebuah karya sastra atau tidak, menjadi masalah lain.

3.2 Empat Sifat Sastra Sebagai Ilmu

Pendekatan[5] terhadap karya sastra dapat dibagi atas dua bahagian besar yang dikenal dengan pendekatan instrinsik dan ekstrinsik. Kedua pendekatan ini hanya terpisah dalam istilah saja. Pada kenyatannya antara pendekatan yang satu dengan yang lainnya saling mengisi, saling mendukung dalam memberi arti terhadap pemahaman sebuah karya sastra. Namun studi sastra sebagai bagian dari cabang ilmu pengetahuan, mempunyai 4 sifat:

No Sifat Penjelasan
1 Kumulatif. Sastra sebagai ilmu bersifat kumulatif. Artinya sastra sebagai ilmu tidak sekaligus jadi, tetapi dibentuk berdasarkan kajian-kajian atau penelitian-penelitian sebelumnya. Teori-teorinya selalu disempurnakan, ditambah, diperbaiki sehingga mampu menampung dinamika yang tumbuh di dalam sastra itu sendiri. Sebagai contoh semakin bervariasinya pendekatan-pendekatan terhadap karya sastra menunjukkan kepada kita pendekatan-pendekatan tersebut mencoba menampung dinamika yang berkembang yang terdapat pada sebuah karya sastra, artinya kelemahan pendekatan yang satu dicoba tampung pada pendekatan yang lainnya.
2 Empiris Berdasarkan sifat kumulatifnya, maka sastra sebagai ilmu didasarkan kepada penelitian dan pengkajian sebelumnya. Kenyataan atau realitas karya sastra tidak saja bersifat fakta tetapi juga faktual[6].
3 Teori Sastra sebagai ilmu mempunyai teori. Teori ini disusun berdasarkan penelitian dan kajian terhadap karya-karya sebelumnya.
4 Tidak Terlibat Ke Dalam Masalah Moral Artinya dalam upaya memahami dan menjelaskan sebuah karya sastra, sastra sebagai ilmu tidak menilai dari segi moral seperti buruk dan baik, atau hitam-putih.

Jadi sastra sebagai disiplin ilmu, berdiri dan sejajar dengan disiplin ilmu lain. Sedangkan kemandirian sastra sebagai ilmu-sastra, bergantung kepada dinamika yang terdapat di dalam karya sastra tersebut, sebab (karya) sastra itu dapat dilihat, didekati, dibicarakan dari berbagai sudut dan kepentingan.

Namun sastra sebagai kajian, atau kritik, mungkin sulit melepaskan dirinya dari penilaian baik dan buruk.

Adapun beberapa pendekatan yang lazim dipergunakan dalam pemahami karya sastra antara lain, ilmu sosiologi, melahirkan sosiologi sastra, psikologi melahirkan psikologi sastra, sejarah dan politik, filsafat, strukturalisme, semiotik, dan lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa Sastra itu bukan bagian dari bahasa walaupun sastra mempergunakan bahasa sebagai medianya. Demikian juga halnya dengan disiplin ilmu sastra, disiplin ilmu sastra bukan bagian dari ilmu bahasa (linguistik). Hubungan antara ilmu sastra dengan ilmu bahasa saling melengkapi, bukan saling menaklukkan. Sastra memberi arti kepada bahasa dan bahasa juga memberi arti kepada sastra.

Anggapan yang keliru yang menganggap sastra dan bahasa satu, bukan saja merugikan bagi kemajuan disiplin ilmu sastra itu sendiri, tetapi juga merugikan kepada banyak bidang terkait, termasuk merugikan bagi pengembangan disiplin ilmu secara umum. Sebab pengembangan ilmu sastra sebagai sebuah disiplin ilmu tidak akan mampu mengarah kepada dinamika yang diperlukan oleh dinamika yang berkembang di dalam karya sastra itu sendiri.

Sastra adalah bagian dari kebudayaan bukan bagian dari Bahasa. Sastra sebagai bagian dari kebudayaan harus dilihat dalam pengertian luas yang berdimensi multi, sebab kalau tidak demikian, kita tidak akan pernah memahami alasan-alasan yang diberlakukan misalnya oleh Kejaksaan Agung ketika melarang buku-buku fiksi tertentu, atau memahami polisi dalam tidak memberikan ijin terhadap pementasan-pementasan seperti baca puisi.

Sumbangan karya sastra sebagai karya fiksi dalam menghumanisasikan kehidupan memang bagus, namun sumbangan sastra sebagai ilmu bagi pengembangan interdisiplin juga menjadi penting di masa depan.

4. Simpulan

Dari segi ontologi, ontologi sastra sebagai ilmu itu, mempunyai lima inti atau hakekat yaitu sastra sebagai bahasa, sastra sebagai seni dan sastra sebagai komunikasi dan sastra sebagai simbol dan sastra sebagai hiburan.

Dari segi epistemolgi melahirkan banyak metode mengkaji sastra. Seperti strukturalisme, semiotik, hermeneutika, sosiosastra (sosiologi sastra), intertektualitas, psikologi sastra, dekonstruksi, simbolisme, poststrukturalis, postmoderenis, analisis wacana, realisme, mimesis, pragmatik, ekspresi, obyektif, parafrastis, emotif, analitis, historis, sosiopsikologis, didaktis, semantik, tradisional, intensional, eksistensional, general, partikular, komparatif, doktrin, sekuensi, tematik, evaluatif, judisial, induktif, impresionistik, sosiokultural, mitopeik, relativistik, tekstual, lingusitik, elusidatori, politik/ideologi dan sebagainya.

Dari segi aksilogi atau deontologi:

1 Karya sastra harus mencerminkan dan memupuk rasa keindahan.
2 Karya sastra harus membimbing peradapan dan keutuhan bangsa.
3 Karya sastra harus menuntun kearah kemajuan rohani bangsa.
4 Karya sastra harus memberikan penerangan bagi persoalan-persoalan dalam masyarakat.
5 Karya sastra harus menciptakan ide-ide dan gagasan-gagasan baru.
6 Karya sastra harus mampu memberikan hiburan bagi rakyat (penikmatnya).

Daftar Pustaka

A. Teeuw. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya – Girimukti Pasaka.

A.M.W. Pranarka. 1987. Epistemologi Dasar Suatu Pengantar. Jakarta: CSIS.

Aminuddin, MPd. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Penerbit C.V. Sinar Baru.

Gazalba, Sidi. 1991. Sistematika Fisafat, Buku I, II dan III. Jakarta: Bulan Bintang.

Gie, The Liang. 2000. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty.

Hardiyanto, Soegeng. Metodologi Keilmuan: Pengenalan Awal Sebuah Pemahaman

Jan van Luxemburg, dkk.1984. Pengantar Ilmu Sastra, terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: PT. Gramedia.

Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1995.

Komaruddin. 1985. Kamus Istilah Skripsi dan Tesis. Penerbit: Angkasa Bandung.

Muhadjir, Neong. 2001. Filsafat Ilmu, Positivisme, Post Positivisme dan Post Modernisme. Yogyakarta: Rakasarosin.

Munawir, Wahyudin. Netralitas Ilmu dalam Sorotan. http://www.istecs.org/Publication/ISLAM96/islam_1722.html (7/2/2003)

Mundiri. 2000. Logika. Jakarta: Rajawali Pers.

Panuti Sudjiman. 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Penerbit Gramedia, Jakarta.

Rene Wellek dan Austin Warren, 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.

Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: ITB Bandung.

Suriasumantri, Jujun S. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Terry Eagleton. 1988: Teori Kesusastraan Suatu Pengenalan, terjemahan Muhammad Hj. Saleh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.

Penulis adalah Magister Kajian Budaya dengan Pengkhususan Sistem Pengendalian Sosial. Staf Pengajar Pada Departemen Sastra Indonesia.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Jurnal Logat, Vol III, Nomor 1, Oktober 2008 ISSN 1858-0831

Blog:

http://brahmanamedan.wordpress.com (blog)

http://brahmanadokumentasi.wordpres (buku)

http://brahmanadoc.wordpress.com (dokumentasi uu, artikel dll)

TULISAN SEBELUMNYA

NO JUDUL THN/BLN/TGL
150

PERKAWINAN DAN PECERAIAN DALAM MASYARAKAT KARO

2009-10-04
149

MENUJU KALAH

2009-09-27
148

IPTEK: PARADIGMA BARU PENGUBAH DAN PENGEMBANG BUDAYA

2009-09-16
147

HARI SELASA

2009-09-09
146

PERANGKO DAN PERISTIWA

2009-08-30
145

ISYARAT

2009-08-29
144

TENTANG ADIL

2009-08-09
143

KEPADA WAKTU YANG BERLALU

2009-08-08
142

TANAH ADAT DAN SISTEM KEKERABATAN PADA MASYARAKAT KARO

2009-08-02
141

SENGKETA PILPRES: KEPUTUSAN MK UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT ATAU KEPENTINGAN ELIT?

2009-07-26
140

SEPOTONG DOA UNTUK PELAKU BOM BUNUH DIRI BOM MARRIOTT DAN RITZ CARLTON

2009-07-19
139

TIMPAL YANG PROF DOKTOR ITU

2009-07-16
138

OMONG KAMPANYE

2009-07-04
137

DOSEN NGAKALI DOSEN

2009-06-26
136

PILPRES SATU PUTARAN

2009-06-20
135

SUARA KEBENARAN DARI ALAM LAIN

2009-06-14
134

EKONOMI KERAKYATAN (2)

2009-06-06
133

EKONOMI KERAKYATAN (1)

2009-05-30
132

INGAT MEI 1998

2009-05-24
131

MABOK PRESIDEN (4)

2009-05-17
130

MABOK PRESIDEN (3)

2009-05-10
129

CERITA TENTANG KEADILAN BERUJUNG KEBOHONGAN

2009-05-03
128

MABOK PRESIDEN (2)

2009-04-19
127

RAPAT TERTUTUP YANG TERANG DI TEMPAT YANG BISA GELAP PASCA PENCANTINGAN

2009-04-12
126

GOLPUT BERHYPERLINK NEGATIVISME?

2009-04-05
125

MABOK PRESIDEN (1)

2009-03-29
124

AGAMA DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN (2)

2009-03-22
123

AGAMA DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN (1)

2009-03-15
122

IKLAN TEH

2009-03-08
121

TUKANG STEMPEL MENGUMBAR JANJI: AKAL-AKALAN PARA CALEG

2009-03-01
120

BALA DAN BULAN-BULANAN

2009-02-23
119

AWAL PERKEMBANGAN ESTETIKA DI INDONESIA

2009-02-16
118

KEINDAHAN DAN AGAMA

2009-02-08
117

EKSISTENSIALISME DAN KONFLIK

2009-02-01
116

MENGHAPUS KEMISKINAN: MUNGKINKAH?

2009-01-25
115

L A P A R

2009-01-18
114

BAHASA KARO DAN BAHASA BALI: SEBUAH PERBANDINGAN AWAL

2009-01-11

 

113

EVALUASI AKHIR TAHUN 2008 TERHADAP PENGAMAT-PENGAMAT

2009-01-04

 

112

JEJAK-JEJAK MASA LALU DARI SUMATERA BARAT Dalam Foto

2008-12-28

 

111

LEMBAH NGARAI SI ANOK DILIHAT DARI LOKASI GOA JEPANG DI BUKIT TINGGI TANGGAL 25 FEBRUARI 2008 Dalam Foto

2008-12-21
110

FOTO-FOTO DI SEKITAR JAM GADANG KOTA BUKIT TINGGI DI PAGI HARI TANGGAL 27 FEBRUARI 2008 Dalam Foto

2008-12-14
109

FOTO ISTANA PAGARUYUNG YANG TERSISA PASCA KEBAKARAN 27 FEBRUARI 2007 DI KABUPATEN TANAH DATAR, SUMATRA BARAT Dalam Foto

2008-12-07

 

108

TERPERANGKAP DALAM FAKTA: ANALISIS TERHADAP KERANGKA PIKIR MEMBUNUH ATAS NAMA TUHAN Tulisan ini menganalisis alur pemikiran orang-orang yang melakukan pembunuhan sesama manusia dengan mengatasnamakan Tuhan.

2008-11-30
107

ATAS NAMA KERESAHAN

2008-11-22
106

PERUBAHAN DAN CEK KOSONG

2008-11-16
105

PEMEKARAN WILAYAH BEBAN BERAT BAGI LINGKUNGAN (?)

2008-11-09
104

SEPENGGAL DOA DEMI KEDAMAIAN KARENA PORNOGRAFI

2008-11-02
103

BUSYET

2008-10-26
102

PEMELIHARAAN BAHASA ETNIS DAN OTONOMI DAERAH

2008-10-19
101

MENGAPA RUPANYA

2008-10-12
100

GAK NYAMBUNG TJOI!

2008-10-05
099

KEINDAHAN TERBARU

2008-09-28
098

TUHAN, MANUSIA DAN UANG

2008-09-21
097

LOMBA LEBIH BERBOHONG

2008-09-14
096

UNIVERSAL

2008-09-07
095

KURANG GIZI DAN LAPAR TERSEMBUNYI

2008-08-31
094

PILKADA-PEMILU

2008-08-24
093

SASTRA, SENI DAN ESTETIKA

2008-08-17
092

BERTUHAN SECARA FAKTA DAN BERTUHAN SECARA FAKTUAL

2008-08-10
091

MOLEKUL PINTAR

2008-08-04
090

PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR UJIAN TIDAK DIIJINKAN, DIKEMBALIKAN KE INSTANSI PENGIRIM (ASAL) JUGA TIDAK DILAKUKAN UPDATE

2008-07-28
089

SASTRA (KESUSASTRAAN) SEBAGAI PRODUK BUDAYA (KEBUDAYAAN)

2008-07-22
088

PUISI: HANYA NAMA, CEK KOSONG, TIDAK LEBIH! DAN AKUPUN AKU MASIH SEPERTI YANG DULU

2008-07-14
087

PENGAJARAN TENTANG KETUHANAN ATAU KENABIAN? SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN PENDIDIKAN/PENGAJARAN AGAMA

2008-07-07
086

DI BALIK 1000 NYALA LILIN

2008-06-23
085

N Y A P L I R

2008-06-16
084

DARI MALAIKAT KE DOA MOHON KEHANCURAN AGAMA : DEKONSTRUKSI ATAS PANDANGAN KEAGAMAAN DALAM SASTRA INDONESIA

2008-06-09
083

PUISI: TETAP TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH

2008-06-02
082

PUISI: MONYET PADA ISI BERITA TV

2008-05-26
081

SASTRA DAN PRAGMATISME

2008-05-19
080

PUISI: BERTOBATLAH

2008-05-12
079

FILSAFAT DAN SASTRA

2008-05-05
078

PUISI: DI DALAM SEBUAH KAWASAN

2008-04-28
077

PUISI: UNTUNG BUNTUNG

2008-04-21
076

PENYAKIT DAN MEMILIH UPAYA CARA PENYEMBUHANNYA (2)

2008-04-14
075

PENYAKIT DAN MEMILIH UPAYA CARA PENYEMBUHANNYA (1)

2008-04-07
074

PUISI: MELAYANI DENGAN HATI TULUS

2008-04-01
073

KESESATAN

2008-03-24
072

SASTRA SEBAGAI SEBUAH DISIPLIN ILMU

2008-03-17
071

PUISI: RUMAH TUA

2008-03-10
070

PUISI: SETANGKAI BUNGA PLASTIK

2008-03-03
069

PUISI: MEMBACA TERBALIK

2008-02-18
068

SASTRA DAN ESTETIKA (2): MEMAHAMI KEINDAHAN PUISI

2008-02-11
067

 

UNDANG-UNDANG ALIRAN SESAT ATAU UNDANG-UNDANG YANG BERLIRAN SESAT?

2008-02-04

 

066

SASTRA DAN ESTETIKA (1): PENGERTIAN KEINDAHAN

2008-01-29
065

KEINDAHAN

2008-01-21
064

KEMISKINAN GAYA BARU

2008-01-15
063

SASTRA SIBER

2008-01-07
062

PEMEKARAN WILAYAH DAN ANCAMAN PEMANASAN GLOBAL

2007-12-24
061

SASTRA EKSIL

2007-12-17
060

KONDISI KERJA DALAM “LINGKUNGAN” SAUDARA SEBANGSA

2007-12-10
059

 

FOTO-FOTO SISA KEJAYAAN PADANG PENGEMBALAAN KERBAU KELUARGA SEMBIRING BRAHMANA LIMANG 1

FOTO-FOTO SISA KEJAYAAN PADANG PENGEMBALAAN KERBAU KELUARGA SEMBIRING BRAHMANA LIMANG 2 DI KABUPATEN KARO SUMATERA UTARA

2007-12-03

 

058

KEPADA MEREKA YANG TELAH TAHU JALAN KE SURGA

2007-11-26
057

 

SASTRA DAN POLITIK (2) PELARANGAN BUKU-BUKU SASTRA PADA MASA ORDE BARU (TRAGEDI SASTRA INDONESIA)

2007-11-19

 

056

PUISI : CERITA ORANG PINTAR

2007-11-12
055

SASTRA DAN POLITIK (1): ANUTAN ROHANI DAN KARYA SASTRA

2007-11-05
054

 

MEMAHAMI KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA DARI SISI GAGASAN DAN MATERIAL

2007-10-29

 

053

GEREJA DAN PEMBINAAN BAHASA (DI) INDONESIA

2007-10-22
052

SASTRA KONTEMPORER INDONESIA

2007-10-15
051

PUISI: GEMPA INDONESIA

2007-10-08
050

IRAMA GEDANG ITU BERNAMA STOLEN ASSET RECOVERY (StAR) INITIATIVE

2007-10-01
049

BENTUK DAN ALIRAN DALAM PUISI INDONESIA

2007-09-24
048

PUISI: KETIK (SPASI) PEMBOHONG (SPASI) KAU

2007-09-17
047

SASTRAWAN INDONESIA DAN JAMANNYA

2007-09-10
046

PUISI: HANYA SATU KATA

2007-09-03
045

KESUSASTRAAN INDONESIA, KEBUDAYAAN DAN KAJIAN BUDAYA

2007-08-27
044

PUISI: TOPENG MONYET

2007-08-20
043

PUISI: HMM! NIKMATNYA BERBOHONG

2007-08-14
042

AGAMA DILECEHKAN: MENGAPA HARUS TERSINGGUNG?

2007-08-06
041

PUISI: AKU TIDAK MAU

2007-07-31
040

PUISI: CERITA KESEJAHTERAAN RAKYAT

2007-07-23
039

BILA SBY-JK GAGAL! LALU SIAPA YANG TIDAK GAGAL?

2007-07-18
038

PUISI: KKNK

2007-07-09
037

PUISI: INGATAN KEPADA SATU NAMA

2007-07-02
036

REFORMASI KUDA PUSING

2007-06-26
035

PUISI: MENANTI WALAU TIDAK PASTI

2007-06-18
034

PUISI: DI BALIK

2007-06-11
033

BUDAYA POLITIK DAN PELANGGARAN HAM

2007-06-06
032

PUISI : ACINTYA

2007-05-29
031

 

POLITIK UANG DALAM PILPRES-PILKADA DAN POLITIK UANG DALAM SMS BERHADIAH

2007-05-21
030

PUISI : BULAN MEI

2007-05-14
029

BERPINDAH AGAMA: MENGAPA DIPERSOALKAN?

2007-05-07
028

 

PUISI: SELEMBAR AMPLOP SURAT TERGELETAK DI TEPI JALAN BALAI KOTA MEDAN

2007-04-30

 

027

GADO-GADO DJAKARTA

2007-04-23
026

 

KOMUNISME! MENGAPA HARUS DITAKUTI: KASUS “PENGHADANGAN” PARTAI PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL (PAPERNAS)

2007-04-16

 

025

PUISI: KOTAKU PERAIH BERMACAM-MACAM

2007-04-09
024

KISAH “ORANG MEDAN” DAN GAYA MEDAN

2007-04-02
023

 

KONFLIK PEMINDAHAN IBUKOTA KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN: MENJADI IBUKOTA KABUPATEN, ADA PLUS MINUSNYA

2007-03-26

 

022

PUISI: PRODUK ITU …!

2007-03-20
021

PUISI: YOGYAKARTA 1989

2007-03-12
020

 

PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR: UJIAN TIDAK DIIJINKAN, DIKEMBALIKAN KE INSTANSI PENGIRIM (ASAL) JUGA TIDAK DILAKUKAN

2007-03-07

 

019

PUISI: KEPADA J (1)

2007-02-03
018

PUISI: BUDHA DI BOROBUDUR

2007-02-27
017

RIH PANJANG: PADANG PENGEMBALAAN KERBAU LIMANG TINGGAL KENANGAN

2007-02-19
016

 

TEMA-TEMA YANG MENGANDUNG OPOSISI BINER DALAM INJIL DAN AL QUR’AN

2007-01-15

 

015

 

KASUS PELANGGARAN HAM DI INDONESIA: PELAKSANAAN ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN TIDAK SEIRING SEJALAN ?

2006-12-11

 

014

“HANCURKAN ORDE BARU”

2006-12-04
013

MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO

2006-11-27
012

 

NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN
(KOMENTAR UNTUK BUNG FATIH 20/04/2008)

2006-11-21

 

011

PILKADA DAN PENCERAHAN

2006-11-13
010

ORDEBARU: MONOKULTURAL ATAU MULTIKULTURAL?

2006-11-06
009

PEMEKARAN WILAYAH: UNTUK KESEJAHTERAAN SIAPA?

2006-10-30
008

HAMA DALAM INDUSTRI PARIWISATA

2006-10-26
007

PERKAWINAN DALAM PANDANGAN BUDHA

2006-10-23
006

 

BUKAN HANYA TNI/POLRI, PNS AKTIF SEHARUSNYA JUGA TIDAK DIBERI HAK PILIH

2006-10-16

 

005

INDEPENDEN: NETRAL YANG AKAL-AKALAN

2006-10-16
004

TOTEM KLAN PADA MASYARAKAT KARO

2006-10-09
003

 

DALIKEN SI TELU DAN SOLUSI MASALAH SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO: KAJIAN SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL (file pdf)

Library USU

 

002

SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL (file pdf)

Library USU
001

PROF. DR. I GUSTI NGURAH BAGUS DALAM INGATAN

2006-09-29

DAFTAR YANG LAIN


[1] Istilah keganasan ini adalah istilah Malaysia. Pengutipan di atas dikutip dari terjemahan dalam bahasa Malaysia.

 

[2] Kompas Senin, 14 Juli 1986, juga Suara Karya, 14 Juli 1984.

[3] Di sinilah ketidakakuratan karya sastra dalam mengungkapkan realitas sosial. Dalam karya-karya sastra lama misalnya, lokasi kejadian kerap tidak jelas di sebutkan saja di sebuah daerah antah berantah. Menelaah realitas sosial seperti ini sejarah misalnya jelas sangat sulit, sebab data seperti ini tidak dapat menjawab satu atau dua W dari 4 W yaitu W (Where) dimana yaitu mengenai lokasi kejadian atau (When) kapan yaitu tahun berapa kejadian itu ada. Tetapi dalam karya-karya sastra moderen, walaupun realitas di dalam sebuah karya sastra moderen dapat menjawab 4 W di atas, tetapi karya sastra moderen juga tidak dapat dijadikan bahan studi sejarah, hal ini dikarenakan sifat karya sastra itu yaitu imajinatif. Realitas yang sesungguhnya kerapkali sudah dimanipulasi, direkonstruksi si pengarang untuk tujuan-tujuannya. Salah satu contoh ini adalah karya Williem Shakespeare yang berjudul KING LEAR. Dalam sejarah tokoh King Lear menang dalam peperangan, tetapi dalam karya Williem Shakespeare, tokoh King Lear menderita kekalahan (Wiratmo Soekito. Kesusastraan dan Kekuasaan, majalah Prima, Maret 1979, hal 47-50). Ini berarti telah terjadi pemutarbalikan fakta. Mengapa Williem Shakespeare merekonstruksi fakta ini (baca diputar balikkan), tentu ada maksud-maksudnya tersendiri.

[4] Pendekatan instrinsik adalah pendekatan yang berdasarkan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra itu dari dalam, misalnya sebuah puisi, maka yang dibicarakan antara lain, masalah rasa (feeling), nada (tone), amanat/tujuan (intention), diksi (diction), imaji (imagery) dan sebagainya. Dalam prosa antara lain plot, penokohan, latar dan sebagainya. Pendekatan ekstrinsik adalah pendekatan yang berdasarkan hal-hal yang mempengaruhi penciptaan karya sastra itu dari unsur luar seperti sejarah, perubahan sosial, ideologi (anutan rohani si penulis/pengarang) dan sebagainya.

[5] Dalam hubungan ini dipergunakan istilah pendekatan, alasannya, ada anggapan, sehebat apapun ilmu bantu yang dipergunakan seseorang untuk memahami sebuah karya sastra, seseorang itu tetap tidak dapat menangkap apa yang dimaksudkan si penulisnya. Apa yang dilakukan oleh seorang kritikus misalnya tidak lebih hanya sebatas tafsiran berdasarkan tanda-tanda yang terdapat di dalam karya sastra tersebut. Yang dapat menangkap maksud sesungguhnya dari sebuah karya sastra hanya lah pengarangnya sendiri.

[6] Dalam pengertian ini, walaupun realitas sebuah karya sastra dapat dimasukkan ke dalam gambaran sesungguhnya dari sebuah kenyataan yang terjadi di tengah-tengah perjalanan peradapan manusia (sejarah misalnya) (tersurat), tetapi kecenderungan karya sastra adalah mencoba menggambarkan bukan realitas yang sesungguhnya, ada makna lain (tersirat). Karya sastra yang mengandung unsur sejarah misalnya, kerapkali tidak dapat menjawab 4 W (What=apa, When=apabila, Who= siapa, dan Where=dimana), dari yang dituntut untuk menentukan fakta.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.